Sakratul Maut

Tahun 2001 Masehi

Umurku kurang lebih 7 tahun, kira kira kelas 1 SD. Jaman SD dulu, aku cukup bahagia dengan kegiatan kegiatan rutin ku, jam setengah 6 pagi aku bangun, jam 7 berangkat sekolah, jam 10 pulang, sampai rumah nonton Teletubbies, siang tidur, sore main sama tetangga, magrib pulang dan malam tidur. Seperti itu lah kegiatan rutin saat kecil dulu, kecuali malam minggu, karena malam minggu ada janjian kencan sama kembang desa kampung sebelah.

Setiap sore, aku main sama teman teman ku, kami main sepak bola di sebuah lapangan yang cukup luas dengan batu – batu kerikil dan pasir yang menusuk telapak kaki kami karena main tanpa alas kaki, alas kaki / sandal digunakan sebagai gawang. Lapangan tersebut juga dipakai supir supir truk untuk memarkirkan kendaraan sambil istirahat, maklum, karena lapangan tersebut terletak di pinggir jalan besar, sehingga lokasinya strategis untuk supir truk beristirahat dan buang air kecil sembarangan di situ.

Kami bermain sepak bola dengan bola plastik hasil patungan dari sisa uang jajan kami di sekolah. Bola nya bola plastik murahan, karena patunganku yang paling besar, jadi tiap selesai main, bolanya aku yang bawa pulang, trus nanti kalo mau main lagi bolanya aku bawa dari rumah. Saat dirumah, aku melihat ada spidol spidol warna, aku pun mulai memancarkan sisi artistik ku pada bola tersebut.

Hari berikutnya, saat sore hari waktunya bermain. Aku dibanjiri pujian oleh teman teman ku. “Waah… bolanya kapten tsubasa….” teriak temanku kegirangan karena bola nya jadi tambah bagus setelah aku gambar gambari dengan spidol. Aku beri garis garis agar terlihat seperti bola di serial kartun kapten tsubasa, aku gambari logo adidas, logo nike, logo mikasa dan logo tepung beras rose brand. Pokoknya bola nya jadi bagus. Kami pun bermain dengan riang gembira sampai suatu ketika aku menendang bolannya dan jatuh ke comberan. Gambarnya luntur, bolannya pun jadi jelek dengan bekas lunturan spidol. “Bola nya kayak tai… heeek….” teriak temanku, aku pun dibanjiri hujatan lebih hebat daripada pujian yang tadi aku terima.

Ditengah tengah permainan, temanku menendang bola sangat jauh, karena udah capek, aku hanya mengejar dengan berjalan tidak berlari, dan kemudian bola nya menggelinding masuk ke bawah kolong truk. Aku pun berjalan mendekati truk untuk mengambil bolanya. Aku merayap masuk kolong truk dan hap, bola nya bisa aku raih dengan tangan kanan ku. Aku pun merayap mundur keluar dari kolong truk. Saat aku mulai berdiri dari posisi tengkurap, tiba tiba. “Jleeb….” ada sesuatu yang menikam punggung ku, rasanya seperti tergores pisau di bagian punggung kemudian diikuti dengan rasa nyeri dan linu di sepanjang tulang belakang. Karena kejadian tadi, aku yang mau berdiri pun terjatuh lagi dengan posisi tengkurap. Aku jatuh dengan posisi wajah dan dada ada dibawah “bekkk….” karena dadaku langsung jatuh mengenai tanah,  aku jadi susah bernafas setelah jatuh, rasanya sesak, mulut dan hidungku dipenuhi pasir. Aku ingin berteriak minta tolong, tapi tidak bisa. Karena cukup lama tidak bisa bernafas, aku mulai merasakan kesemutan di kaki dan tanganku, kemudian kepalaku mulai merasakan pusing hebat dan mataku terasa berat seperti mau tidur, badanku mulai merasa dingin. Apakah ini yang dinamakan sakratul maut?

Datanglah teman ku yang lebih tua 3 tahun dari ku, dia bernama “A” (nama disamarkan) melihatku jatuh dengan posisi tengkurap, aku mendengar dia bilang, “Malah tidur, mana bolanya?” Kaki ku ditarik, aku pun keluar dari kolong truk, kemudian dia mengangkat badan ku sehingga posisiku berdiri. Melihat baju ku kotor terkena pasir, A menepuk baju ku saat dia menepuk baju & badanku, seketika itu juga aku bisa bernafas, badanku yang tadi terasa dingin, sekarang mulai hangat, rasa pusing di kepalaku sudah perlahan lahan hilang, juga kesemutan di kaki dan di tangan hilang, aku jadi sehat dan kuat lagi, terima kasih klinik tong fang.

Setelah itu aku meminta dia untuk mengecek punggung ku, dan benar, ternyata punggung ku berdarah, darahnya tembus di kaos karena aku lupa pake yang bersayap. Aku pun jongkok melihat bagian bawah truk tadi, ada lempengan besi casis truk yang terlihat tajam dan meruncing ke arah bawah, ternyata saat mengambil bola tadi, aku yang mengira sudah tidak di bawah truk, langsung ingin berdiri, dan ternyata punggung ku tertusuk benda tersebut.

Setelah itu, aku dan A berjalan menuju tempat bermain teman temanku yang lain, aku bercerita tentang kejadian tadi. Karena sudah hampir magrib, aku dan teman teman ku pun menyudahi bermain nya dan pulang menuju rumah masing masing. Sebelum pulang, aku mampir di sungai dulu untuk mencuci kaos ku yang tadi terkena noda darah agar tidak ketahuan ibu ku yang galak. Sampai di rumah, aku tidak bercerita ke orang tua ku dan semua terasa normal.

Dan terakhir, aku mau bilang terima kasih untuk A, kalau waktu itu aku tidak ditolong, sekarang pasti aku udah mati dan reinkarnasi jadi walang sangit.

Sekali lagi, untuk A, kalau kau membaca tulisan ini, ingat ya A, utang mu ke aku buat beli ciki dan senar layangan sebesar 3000 rupiah belum dibayar sampe sekarang.

Tamat

Pesan moral : kematian itu tidak memandang usia, ada yang masih muda sudah mati, ada yang udah tua gak mati mati, sebagai manusia harus selalu berbuat baik agar sewaktu waktu kalau mati, bisa mati dalam keadaan baik.